Laman

Selasa, 18 Desember 2012

aku


Dahulu kala, tepatnya pada tahun ganjil 1991, di daerah yang terkenal sejuk dan terjauh dari polusi, Sukabumi, lahirlah seorang anak dari keluarga besar nan bahagia, orangtuanya memberi ia nama, aku. Aku kecil adalah seorang anak yang sangat periang, ia terlahir bagaikan mentari yang memberikan kehangatan kepada siapa saja yang dekat dengannya khususnya untuk keluarganya, dan latar belakang kelahirannya yang nyaman, sejuk, terjauh dari polusi dan budaya hedonis, mendorongnya menjadi seorang anak yang terkesan sejuk, lembut dan baik hati.

Aku kecil sangat disayang oleh keluarganya, namun kasih sayang yang orangtuanya curahkan tidak menjadikan aku menjadi seorang anak manja, dari sejak usia dini ia disayang namun dididik keras oleh keluarga, pendidikan ketat dan tegas dari keluarga menjadikan aku berkarakter dewasa, rendah diri, responsive, cekatan, namun sayang, terkadang ia punya karakter menentang apa yang teman-temannya ucapkan. Ia selalu berpendapat berbeda mengenai sesuatu, baik dengan teman-temannya bahkan dengan keluarga juga guru sekolahnya sendiri. Jadi sangat susah bagi aku menyetujui perkataan orang lain secara begitu saja.

Masa kecilnya ia habiskan untuk bermain setiap hari, tentu sambil menempuh pembelajaran di SD Negeri 1 Parakansalak, MTs Syarikat Islam juga MA Syarikat Islam di daerah Sukabumi. Begitulah aku kecil, ia lebih mudah menyerap pengetahuan sambil bermain daripada belajar secara formal, tetapi walaupun cara dia belajar seperti itu, anehnya ia selalu mendapat ranking yang lumayan baik di kelasnya dari SD hingga MA, tak pernah sekalipun ia tidak masuk ke dalam 5 besar ranking kelas selama masa sekolah. Ironi memang, bahkan sampai sekarangpun ia masih senang menghabiskan waktu hidupnya hanya untuk bermain dan bergembira, tentu sambil menempuh jenjang perkuliahan di Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Jakarta.

Jurusan Ekonomi, sebenarnya bukanlah suatu pilihan mutlak baginya, karena baginya apapun jurusan yang ditempuh pasti akan mengasikan bila dijalani dengan niat yang positive. Jurusan Ekonomi yang ia pilih mungkin saat itu ia terobsesi menjadi seorang ekonom, karena dipikirannya saat itu menjadi seorang ekonom adalah jalan yang tepat untuk dapat menguasai dunia, dapat memberikan pemikiran yang akan dijadikan system dalam perekonomian di sebuah Negara. Memang obsesi yang sangat berat. Dia sangat terobsesi menjadi seorang Adam Smith yang mampu memberikan pemikiran cemerlang seperti yang dituliskan dalam bukunya “An Inquiry Into the Nature and Causes of the Wealth of Nations” , tulisannya merupakan motor bagi kebangkitan industry di eropa, dan perkembangan perekonomian eropa. Juga ia sangat sangat fanatic dengan pemikiran adam smith mengenai “the invisible hand” , sehingga tak jarang ia sering mempraktekannya dalam kegiatan sehari-hari.

Di perkuliahannya aku memposisikan diri sebagai mahasiswa yang santai, namun tetap berprinsip pekerja dan pembelajar keras. Nilai IPK cumlaude baginya bukan merupakan sebuah patokan keberhasilan, tetapi memaknai hidup yang sebenarnya yang lebih ia pilih, ia sangat menyayangkan masa-masa hidupnya di perkuliahan jika dilewati begitu saja hanya untuk mengejar nilai, title, mengejar kelulusan dan pekerjaan. Baginya hidup seperti itu sangat begitu datar.

Pengaplikasiannya dia ikut serta dalam organisasi intra kampus yang dapat mengapresiasi dirinya mengembangkan potensi yaitu di unit kesenian mahasiswa. Dan ternyata benar, disana ia sedikit telah menemukan apa yang disebut dnegan pembelajaran hidup yang sebenarnya, disana ia lebih terfasilitasi untuk belajar, berkarya dan bergembira juga bersosialisasi.

Ya, memang sudah menjadi prinsipnya barangkali, jadi jangan heran jika disayangkan prestasinya dibidang akademik tidak begitu memuaskan walaupun masih diatas standar tentunya, tepatnya 3,1 an, terangsaja mungkin ini karena ketidakfokusannya dalam bidang akademik, sangat banyak hal yang sedang ia tekuni, termasuk belajar menuntaskan masalah financial untuk biaya keseharian yang sangat banyak. Wajarsaja ia selalu pulang larut malam setiap harinya, entah hanya latihan, kadang juga entah nongkrong, entah kerja, entah rapat, entah ngajar privat bahkan ia sering tidak pulang karena sering ada proyek sebagai event organizer.

Namun mungkin juga disinyalir terdapat factor lain yang menyebabkan prestasi akademiknya tidak begitu memuaskan, ya itu adalah karena sifat penentang namun legowo yang ada pada dirinya. Ia terkadang suka menentang apa yang dosen katakan tidak sesuai dengan pikirannya, ia selalu kekeh dengan idealismenya, yaa betul memang, itu adalah ego yang sangat membahayakan. Tetapi anehnya dia juga sangat legowo ketika diberikan nilai C oleh dosennya. yaaa, memang aneh,, bahkan ia sering berkata “memang saya masih kurang memahami teori itu barangkali” ketika mendapat nilai C dari sang dosen.. padahal sebenarnya itu adalah karena ketidak sesuaian pola pikir aku dengan dosennya.. disinilah terlihat jelas perbedaan antara aku dengan mahasiswa lain,, yaa perbedaan antara aku dengan mahasiswa penjilat.. lihat saja, mereka rela mengorbankan apa saja demi mendapat nilai A yang hakikatnya tidak mempunyai arti apa-apa..

Walaupun terkesan easy going, sejak kecil pemuda yang sangat hobi nongkrong ini mempunyai tanggung jawab yang lumayan berat, keikutsertaannya dalam organisasi harus ia buktikan dengan kontribusi dan dedikasi, tak hanya itu dia pun terjun di dunia social kemasyarakatan, salah satunya ia berkontribusi di Asrama Sunan Giri yang selain menjadi tempat tinggal baginya, itupun menjadi sebuah lembaga social yang sangat aktif dalam kegiatan social juga keagamaan yang bukan hanya tingkat wilayah, namun nasional. Salah satunya juga ia ikut serta dalam wadah kemasyarakatan, buktinya sekarang ia menjabat sebagai sekertaris RT 12/15 kelurahan Rawamangun Jakarta Timur.

Jiwa organisatoris memang sudah mendarah daging padanya, ia selalu ikut serta di organisasi yang strategis ada di lingkungan dekatnya, mulai organisasi social sampai organisasi profit, salah satu contoh kecil seperti di sekolah, ia pernah aktif di OSIS dan dipercayai menjabat sebagai ketua, sama halnya di kampus hijau tempat aku menempuh kuliah, ia aktif menjabat sebagai pengurus di salah satu unit kampus, juga iapun ikut serta dalam organisasi profit, seperti menjabat sebagai koordintaor di salah satu organisasi profit yang bergerak dibidang event organizer yang track recordnya sudah terpercaya, salah satunya event Sea Games 2011 kemarin. Dari situlah aku mencari sumber mata pencaharian.

Selain hoby nongkrong, pemuda yang bercita-cita malanjutkan kuliah magister manajemen resiko UI, juga bercita-cita menjadi seorang kapitalis ini sangat hobby berbisnis, dari bisnis kecil-kecilan seperti jual barang bekas di internet, hingga pernah memegang proyek penjualan dengan market share tingkat nasionalpun pernah ia kerjakan, saat ini pun ia masih menjabat sebagai team menegement villa 99 Sukabumi.

Pengusaha merupakan profesi yang dia cita-citakan. Baginya tiada yang tidak mungkin untuk dilakukan, just do it and makes your hobby as your relligion!

Aku = just name

dibuat di bulan ke tiga tahun 2012

Tidak ada komentar:

Posting Komentar